
Ngembak Geni: Merajut Harmoni dan Kebersamaan Usai Nyepi Saka 1947
Denpasar, 30 Maret 2025
Setelah sehari penuh menjalani Catur Brata Penyepian pada Hari Raya Nyepi Saka 1947, umat Hindu di Bali merayakan Ngembak Geni pada hari berikutnya sebagai momen mempererat tali persaudaraan dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih.
Ngembak Geni yang jatuh sehari setelah Nyepi menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali bersosialisasi setelah sehari penuh dalam keheningan dan refleksi diri. Pada momen ini, umat Hindu di Bali biasanya mengunjungi sanak saudara, kerabat, serta tetangga untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan.
“Ngembak Geni merupakan simbol dari harmoni dan kebersamaan. Setelah melakukan penyepian, kami kembali bersilaturahmi, saling memaafkan, dan memulai tahun baru Saka dengan hati yang lebih bersih,” ujar I Ketut Suryawan, seorang warga Denpasar yang turut merayakan tradisi ini.
Selain sebagai ajang silaturahmi, Ngembak Geni juga diisi dengan berbagai kegiatan, seperti Dharma Shanti, persembahyangan di pura keluarga, dan rekreasi bersama keluarga. Beberapa daerah di Bali bahkan merayakannya dengan permainan tradisional dan pertunjukan seni sebagai bentuk syukur atas kehidupan baru yang telah dimulai.
Di berbagai tempat, terutama di kawasan wisata, suasana kembali hidup setelah keheningan Nyepi. Wisatawan domestik dan mancanegara mulai kembali beraktivitas, menikmati pesona Pulau Dewata yang sehari sebelumnya seolah berhenti sejenak dalam sunyi. Dengan semangat Ngembak Geni, masyarakat Bali diharapkan dapat terus menjaga harmoni, kedamaian, dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi ini bukan hanya menjadi bagian dari budaya Hindu di Bali, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan dan perdamaian yang universal. (pgs)